Selasa, 02 Oktober 2012

Puisi




BUNDA


Dentang nafasmu menyeruak hari hingga senja
Tak ada lelah tergores di wajah mu
Tak ada sesal kala semua harus kau lalui
Langkah mu terus berjalan untuk kami

Desah mimpimu berlari mengejar bintang
Berharap kami menjadi mutiara terindahmu
Dalam semua peran yang kau mainkan
Ini adalah peran terbaikmu

Dalam lelah kau rangkai kata kata bijak untuk kami
Mengurai senyum di setiap perjalanan kami
Menguntai do’a disetiap detik dan nafas kami
Ibu….
Kau berlian di hati kami

Relung hatimu begitu indah
Hingga kami tak sanggup menggapai dalamnya
Derai air matamu menguntai harap disetiap sholatmu

Ibu…
Maafkan lah kami
Jangan benci kami
Jika kami membuatmu menangis



Senin, 01 Oktober 2012

Puisi


Pagi yang indah

Kulewati jalan setapak menyusuri pantai
Di kala pagi buta meninggalkan bumi
Kala itu gerimis kecilpun datang
Datang menemani sang mentari bangun

Ku lihat di seberang ufuk timur
Bersama dinginnya tetesan embun
Sinar pelangi melingkar merangkul menyinari bumi
Betapa elok nan indah tuhan kau ciptakan

Tak ada dua bentuk yang menyamainya
Sinarnya menorehkan hiasan langit di kala pagi
Mengajak manusia menatap indahnya dunia
Menggapai hasrat mencapai mimpi

Pelangi……..
Warnamu indah berseri
Merah, Kuning, Hijau itulah warnamu
Di sinari oleh mentari
Pelangi yang indah….
Semua orang menyukaimu
Ingin ku melihatmu setiap hari
Bersama burung burung terbang tinggi

Dongeng





Asal Mula Manusia Mengenal Beras

Pada zaman dahulu manusia belum menggenal beras. Mereka hanya makan buah-buahan dan hewan buruan di hutan. Setelah itu mereka mulai belajar beternak dan berkebun. Namun sampai saat ini mereka masih menggangap padi sebagai tanaman semak belukar yang daunya tajam selain itu juga bulir-bulirnya yang keras serta berbulu. Nah… mau tau lagi nggak ? baca cerita ini yaa….
Alkisah adalam negeri bernama Zam zam, Negeri ini sedang dilanda paceklik dan kemarau panjang. Sungai dan rawa di sana kering kerontang. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah rawa-rawa di pinggiran tapal batas negeri. Untung beberapa negeri berbelas kasih untuk menyumbangkan air bersih sehingga untuk minum mereka sudah tercukupi. Namun untuk mandi, mencuci dan minum ternak mereka masih mengandalkan air rawa.
Pak Zarno namanya, ia adalah seorang petani yang mempunyai seekor sapi. Seperti biasa, Pak Zarno dan sapinya pergi ke rawa untuk mengambil beberapa liter air. Sesampainya di rawa, sapi Pak Zarno diikat di sebuah pohon yang tanahnya agak kering dan Pak Zarno pergi mengambil air. Beberapa meter dari pohon itu ada tanah yang agak becek dan banyak ditumbuhi padi.
Karena ikatanya agak longgar, jadi sapi itu terlepas dan memakan batang padi beserta bulirnya yang telah mongering. Setelah menggambil air Pak Zarno terkejut karena melihat sapinya tidak ada di pohon tersebut. Ia pun meminta tolong kepada warga untuk mencarikan sapinya. Seorang wargapun menemukan sapi Pak Zarno yang sedang asik makan padi. Warga pun mengusulkan agar sapinya cepat disembelih, namun salah seorang pemuda bernama Ali Bahrazy mengela pembicaraan itu dan menggatakan “ Alangkah baiknya jika sapi ini jangan disembelih dulu, sebaiknya kita tunggu dulu apakah sapi ini ada tanda tanda keracunan ”. Pak Zarno pun menuruti kata-katanya.
Beberapa waktu berlalu, sapi Pak Zarno tidak ada tanda-tanda keracunan. Para warga pun menerima kenyataan itu. Bahwa tanaman yang selama ini mereka anggap beracun itu ternyata tidak beracun. Mereka pun menamakanya dengan nama BERAS, yang di ambil dari nama pemuda itu. Setelah itu mereka mulai memakan beras namun, sebelum di makan, beras tersebut harus di cuci dan di masak terlebih dahulu agar lunak. Sejak saat itu, beras menjadi makanan pokok mereka sehari-hari.